Kebohongan Ahmadiyah
May 24th, 2008 by bobeto05Sebenarnya saya bosan dengan kasus Ahmadiyah ini. Tapi saya perlu mengungkap kebohongannya yang saya lihat dalam sebuah acara dialog di Trans TV bulan April lalu. Dalam acara itu, bertindak sebagai anchor adalah Santa Churanggana dan mewakili Ahmadiyah adalah Dzafrullah Ahmad Pontoh (saya ga sebut Ustadz nya karena saya ga yakin dia layak).
Anchor menanyakan tentang riuhnya polemik Ahmadiyah di Indonesia kepada Pontoh, padahal sudah ada kesepahaman sebelumnya dengan MUI bahwa Ahmadiyah tidak memiliki Nabi dan Kitab sendiri. Pontoh mengatakan bahwa sebenarnya kesepahaman itu terjadi karena adanya tekanan-tekanan (ini satu bukti mereka ber-taqiyah). "Menurut keyakinan kami," katanya, "Allah masih membuka pintu kenabian kok. Ada di dalam Al Quran surah An Nisa ayat 70 yang mengatakan bahwa orang yang taat kepada Allah bisa diangkat derajatnya sebagai orang shaleh, syuhada, shiddiqin, bahkan nabi". Saya persilahkan para pembaca blog ini untuk melihat ke tafsir masing2, pasti anda akan menemukan keanehan. Ternyata yang dia maksud adalah QS: An Nisa : 69 (melenceng 1 ayat) yang terjemahnya :
" Dan Barang siapa yang menta’ati Allah dan Rasul Nya, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang diberi ni’mat oleh Allah yaitu Nabi-Nabi, para shiddiqin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang shaleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya".
Bisa kita lihat pelencengan ayat yang dilakukan Pontoh ini. Selain itu dia juga menukil ayat (lagi2 salah nomer) yang memberi legitimasi atas kepercayaan mereka terhadap Tadzkirah sebagai wakyu Allah. Katanya, "Dalam surah Asy Syuura ayat 52 dikatakan bahwa Allah mengutus malaikat nya untuk menyampaikan wahyu kepada siapa yang Dia kehendaki". Sekali lagi saya cek, ternyata melenceng 1 ayat. Di dalam QS Asy Syuura 51 dikatakan :
"Dan tidak ada bagi seorang manusia pun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau di belakang tabir atau dengan mengutus utusan Nya (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin Nya apa yang dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana".
Dalam ayat tersebut ternyata menerangkan cara-cara sebuah wahyu diterima oleh para Rasul. Ada Rasul yang mendengar Kalam Ilahi di belakang tabir (maksudnya dia dapat mendengar tapi tak dapat melihat Nya) seperti yang dialami Nabi Musa a.s dan ada juga yang menerima wahyu melalui perantaraan malaikat Nya.
Inti dari tulisan ini adalah, kalau kaum Ahmadiyah ini mau hidup aman, buat lah atau umumkan lah bahwa kalian adalah suatu Agama tersendiri yang berada di luar Islam. Toh kalian punya Nabi dan Kitab sendiri. Kalo kalian sudah di luar Islam, barulah kita bicarakan toleransi. Tapi kalo kalian meracuni Islam dari dalam, saya rasa tindakan kekerasan yang kalian terima bukan lah pelanggaran dari nilai2 toleransi.
Kepada LSM-LSM yang membela Ahmadiyah atas nama toleransi dan HAM, please deh ah… Jangan bicara toleransi dan HAM sama saya
Karena saya bukan beragama Toleransi dan HAM. Saya seorang Muslim. Dalam agama saya sudah diatur tentang toleransi dan hak manusia, tapi dijelaskan kapan toleransi itu berlaku dan kapan seorang manusia punya hak. Dan kepada antek2 JIL, please deh ah.. Jangan jual Aqidah kalian untuk Dollar. Masih banyak cara lain untuk mendapatkan rezeki.
Saya berharap semoga polemik Ahmadiyah ga berlarut2 lagi. Bisa dengan pelarangan Ahmadiyah di Indonesia, bisa dengan taubatnya mereka dan kembali ke Islam, bisa dengan memproklamasikan Agama baru, atau yang terakhir (kalau terpaksa) dengan pem-bumihangusan aliran ini.
Wallahu A’lam Bishshawab…