Kebohongan Ahmadiyah

May 24th, 2008 by bobeto05

Sebenarnya saya bosan dengan kasus Ahmadiyah ini. Tapi saya perlu mengungkap kebohongannya yang saya lihat dalam sebuah acara dialog di Trans TV bulan April lalu. Dalam acara itu, bertindak sebagai anchor adalah Santa Churanggana dan mewakili Ahmadiyah adalah Dzafrullah Ahmad Pontoh (saya ga sebut Ustadz nya karena saya ga yakin dia layak).

Anchor menanyakan tentang riuhnya polemik Ahmadiyah di Indonesia kepada Pontoh, padahal sudah ada kesepahaman sebelumnya dengan MUI bahwa Ahmadiyah tidak memiliki Nabi dan Kitab sendiri. Pontoh mengatakan bahwa sebenarnya kesepahaman itu terjadi karena adanya tekanan-tekanan (ini satu bukti mereka ber-taqiyah). "Menurut keyakinan kami," katanya, "Allah masih membuka pintu kenabian kok. Ada di dalam Al Quran surah An Nisa ayat 70 yang mengatakan bahwa orang yang taat kepada Allah bisa diangkat derajatnya sebagai orang shaleh, syuhada, shiddiqin, bahkan nabi". Saya persilahkan para pembaca blog ini untuk melihat ke tafsir masing2, pasti anda akan menemukan keanehan. Ternyata yang dia maksud adalah QS: An Nisa : 69 (melenceng 1 ayat) yang terjemahnya :
" Dan Barang siapa yang menta’ati Allah dan Rasul Nya, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang diberi ni’mat oleh Allah yaitu Nabi-Nabi, para shiddiqin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang shaleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya".
Bisa kita lihat pelencengan ayat yang dilakukan Pontoh ini. Selain itu dia juga menukil ayat (lagi2 salah nomer) yang memberi legitimasi atas kepercayaan mereka terhadap Tadzkirah sebagai wakyu Allah. Katanya, "Dalam surah Asy Syuura ayat 52 dikatakan bahwa Allah mengutus malaikat nya untuk menyampaikan wahyu kepada siapa yang Dia kehendaki". Sekali lagi saya cek, ternyata melenceng 1 ayat. Di dalam QS Asy Syuura 51 dikatakan :
"Dan tidak ada bagi seorang manusia pun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau di belakang tabir atau dengan mengutus utusan Nya (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin Nya apa yang dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana".
Dalam ayat tersebut ternyata menerangkan cara-cara sebuah wahyu diterima oleh para Rasul. Ada Rasul yang mendengar Kalam Ilahi di belakang tabir (maksudnya dia dapat mendengar tapi tak dapat melihat Nya) seperti yang dialami Nabi Musa a.s dan ada juga yang menerima wahyu melalui perantaraan malaikat Nya.

Inti dari tulisan ini adalah, kalau kaum Ahmadiyah ini mau hidup aman, buat lah atau umumkan lah bahwa kalian adalah suatu Agama tersendiri yang berada di luar Islam. Toh kalian punya Nabi dan Kitab sendiri. Kalo kalian sudah di luar Islam, barulah kita bicarakan toleransi. Tapi kalo kalian meracuni Islam dari dalam, saya rasa tindakan kekerasan yang kalian terima bukan lah pelanggaran dari nilai2 toleransi.
Kepada LSM-LSM yang membela Ahmadiyah atas nama toleransi dan HAM, please deh ah… Jangan bicara toleransi dan HAM sama saya :P Karena saya bukan beragama Toleransi dan HAM. Saya seorang Muslim. Dalam agama saya sudah diatur tentang toleransi dan hak manusia, tapi dijelaskan kapan toleransi itu berlaku dan kapan seorang manusia punya hak. Dan kepada antek2 JIL, please deh ah.. Jangan jual Aqidah kalian untuk Dollar. Masih banyak cara lain untuk mendapatkan rezeki.

Saya berharap semoga polemik Ahmadiyah ga berlarut2 lagi. Bisa dengan pelarangan Ahmadiyah di Indonesia, bisa dengan taubatnya mereka dan kembali ke Islam, bisa dengan memproklamasikan Agama baru, atau yang terakhir (kalau terpaksa) dengan pem-bumihangusan aliran ini.

Wallahu A’lam Bishshawab…

Bangsa Manja

May 24th, 2008 by bobeto05

BBM baru saja naik. Mahasiswa ‘atas nama rakyat’ memprotes keras. Bahkan terlalu keras sehingga harus di’lunakkan’ oleh aparat kepolisian. Tapi sadarkah mereka bahwa tindakan mereka sebenarnya hanya memperburuk keadaan? Kekacauan yang mereka timbulkan malah membuat iklim investasi semakin hancur. Harga saham saya jatuh dong (hiks..hiks.. mahasiswa harus bertanggung jawab).

Saya teringat pada sebuah film yang sangat bagus berjudul ‘Miracle Worker’. Film ini berdasarkan kisah nyata dari seorang Hellen Keller yang terkenal pada jaman perang dunia dulu. Hellen kecil adalah seorang yang buta, tuli dan bisu sejak umur beberapa bulan karena panas tinggi yang dialaminya. Hingga usia 6 tahun telah banyak pengasuh yang silih berganti mengasuhnya namun tak ada yang bertahan lama. Akhirnya ayahnya menyerah dan akan menyerahkan Hellen Keller ke RS Jiwa (Pada masa itu, anak2 yang tak ada harapan diserahkan ke RSJ sambil menunggu kematiannya pelan2, sungguh menyedihkan). Namun ibunya memohon agar diberikan satu kesempatan lagi bagi Hellen kecil. Dan si ibu pun menyurati seorang professor di Universitas untuk mendapatkan pengasuh baru bagi putri tercinta. Sudah jalan Tuhan, Hellen kecil mendapatkan seorang pengasuh yang sempat merasakan kehidupan di RSJ di masa kecilnya, namun berhasil keluar dan menjadi seorang psikolog - Tentang kisah si psikolog ini sendiri sangat panjang dan bisa anda cari literaturnya karena dia sangat terkenal bersama Hellen Keller - yang bernama Annie Sullivan.

Annie kemudian mempelajari tingkah laku Hellen kecil dan menemukan bahwa sikapnya yang sangat nakal disebabkan kemanjaan yang diberikan orang tuanya atas nama ‘memaklumi kekurangannya’. Karena pemakluman-pemakluman inilah Hellen tidak bisa melakukan apa pun. Karena tidak bisa melakukan apapun, maka dia tak bisa mengkomunikasikan juga keinginannya kepada para pengasuhnya. Dan, karena tidak bisa berkomunikasi ini pula yang membuat jiwanya depresi yang disalurkan dengan cara mengamuk, memukul dan memecahkan barang2. Berbeda dengan pengasuh2 sebelumnya, Annie mengajarkan realita kepada Hellen kecil. Saat Hellen menampar muka Annie, Annie pun membalasnya kepada Hellen agar Hellen tau apa yang diperbuatnya. Begitu juga saat Hellen menyiram mukanya dengan air minum, Annie pun membalas serupa. Tapi tak lupa Annie mengajarkan bagaimana cara agar Hellen berkomunikasi dalam keterbatasannya. Hellen diajarkan huruf dengan gerakan tangan yg ditempelkan ke tangan Annie. Dengan memahami cara berkomunikasi inilah maka hidup Hellen berubah. Hingga akhirnya Hellen begitu terkenal hingga lanjut usia beliau diminta berkeliling dunia untuk memotivasi orang2 yang cacat karena perang.

Kisah sukses Annie mendidik Hellen ini tidak semulus itu. Annie sempat diusir oleh orang tua Hellen saat awal dia mengasuh Hellen kecil. Tapi Annie tak mau menyerah dan meninggalkan Hellen untuk kemudian hidup tak berarti. Annie berkeras meminta waktu 3 minggu untuk memperlihatkan kepada orang tua Hellen bahwa metode yang dipakainya akan berhasil. Saat orang tua Hellen mengatakan "kenapa tak kau biarkan saja dia dengan keinginannya? Tidakkah kau kasian padanya? Tidakkah kau memaklumi kekurangannya?" Hellen menjawab, "Bila anda selalu memaklumi perbuatannya dengan alasan karena kekurangannya, maka anda tidak mencintainya. Anda membohonginya terhadap realita. Dunia di luar sana sangat keras, apa lagi terhadap orang cacat. Saat anda masih hidup, mungkin anda bisa melindunginya. Tapi saat anda tak ada lagi, siapa yang akan jadi tumpuan hidupnya bila dia tak bisa apa-apa?"

Kembali kepada masalah kenaikan BBM, di sini sangat nyata terlihat kalau kita adalah bangsa manja. Pantesan kita ga bisa apa-apa dan selalu tergantung bangsa lain. Karena kita selalu minta dimaklumi. "Daya beli masyarakat masih lemah, mbok ya tunggu dulu…" Dan alasan2 lainnya yang dikemukakan para politisi cari muka. Tidak sadarkah kita harga minyak dunia sudah melambung tinggi? Mau tidak mau, pemerintah harus menaikkan harga BBM. Banyak ahli ekonomi yang mendukung kebijakan ini dengan melihat dampak positifnya dalam jangka panjang. Banyak yang beralasan bahwa lebih baik pemerintah mencari alternatif energi, usut tuntas kasus BLBI, kurangi kebocoran anggaran, dan lain sebagainya. Ya, usul itu semua bagus, tapi tidak berarti kita tidak perlu menaikkan harga BBM. Semua harus dilakukan sejalan. Lakukan usaha2 positif lainnya untuk menutupi defisit anggaran, tapi pelan2 hapuskan saja subsidi BBM. Buka lah mata rakyat terhadap realita. Jangan seperti jaman orde baru dimana rakyat dibuai dengan kemakmuran semu dengan berbagai subsidi. Tapi begitu diterpa badai sedikit, semuanya rontok karena cadangan devisa yang seret akibat terkuras subsidi. Faisal Basri mengatakan dalam sebuah dialog pagi di TV1 bahwa ‘kekagetan’ masyarakat atas kenaikan BBM ini adalah karena selama ini mereka terbuai subsidi. Jadi mereka tidak sadar bahwa harga minyak terus melambung yang membuat gap antara harga minyak dalam negeri dengan harga real semakin besar. Gap inilah yang akan membuat rakyat kaget saat pemerintah tak mampu lagi menanggungnya. Seandainya rakyat sudah dibiasakan melihat realita sejak dulu, maka kenaikan harga BBM tidak terlalu mengagetkan. Kenaikan harga akan terasa ringan karena naik secara gradual sesuai harga real di dunia. Yah, intinya, ekonom kita ini mau mengatakan, rakyat kita selama ini terlalu manja dengan subsidi. Mungkin kemanjaan ini terbentuk karena sejak kecil kita selalu dibuai dengan slogan2 indah bahwa negara kita kaya raya, tongkat kayu dan batu bisa jadi tanaman berkat kesuburan tanahnya, dan slogan lainnya yang menina bobokan kita terhadap realita.

Sadarlah bung!!! Dunia itu keras. Kalau kita terus manja, kita tak akan bisa maju. Malu lah terhadap Hellen Keller dengan segala kekurangannya. Mahasiswa… be realistic!!! You are all our future leader…

Tentang harga minyak yang terus melambung, tenanglah… Dunia akan menemukan Equilibrium baru nya. Tahun 60 an, saat harga Minyak naik dari US$1 ke US$2 per barrel, dunia juga geger. Saat itu adalah krisis minyak pertama dunia. Tapi toh ternyata dunia bisa melaluinya dan menemukan titik keseimbangan baru. Manusia diberi intelektual kok sama Allah untuk menghadapi masalahnya. "Tidak kami timpakan cobaan kepada manusia melainkan mereka mampu mengatasinya" kata Allah. Masih mau kah kita masuk dalam kategori species manusia???

Hai bangsa ku, bangun lah!!!
Hadapi cobaan ini sebagai manusia!!!
Be realistic!!!
dan… Jangan MANJA!!!

Syariah Phobia

February 14th, 2008 by bobeto05

Syariah Phobia tak pernah hilang.

Dulu anti Perda anti maksiat/Perda Syariah dan RUU anti pornografi/pornoaksi. Sekarang sekelompok orang di Dewan yg terhormat kembali berusaha menghadang RUU tentang perekonomian syariah. Takut amat sama Syariah Islam???

Padahal yang namanya peraturan2 syariah itu baik kok dan bukan monopoli aturan Islam aja. Dalam Perda2 anti maksiat yg dilarang kan Judi, Miras, Pelacuran, perzinahan dan maksiat lain. Apa kah di aturan agama lain itu tidak dilarang??? Dalam RUU ttg ekonomi syariah juga diatur tentang perekonomian yang bebas riba, Maysir dan Gharar. Toh semua itu juga dilarang dalam agama lain. Gharar (menyembunyikan informasi/meragukan) dan Maysir (Untung2an/judi) pasti di agama lain juga dilarang. Tentang larangan Riba, selain ayat2 Al Quran (seperti QS: 2:275), ternyata ada juga di dalam Bible kok. Di Dalam kitab Deuteronomy (Ulangan) 23:19 dikatakan ‘ Jangan engkau membungakan kepada saudaramu, baik uang maupun bahan makanan, atau apapun yang dapat dibungakan’. Dan dalam Kitab Leviticus (Imamat) 25:36-37 dikatakan ‘Janganlah engkau mengambil bunga uang atau riba darinya melainkan engkau harus takut kepada Allah mu, supaya saudaramu bisa hidup diantaramu. Janganlah engkau memberi uangmu kepadanya dengan meminta bunga juga makananmu jangan kau berikan dengan meminta Riba.’

Makanya, bapak2 yang berusaha menghadang RUU - RUU ttg Syariah ini mbok ya kembali mempelajari aturan-aturan agama masing2.

Ajakan Berdialog dari Bapa Suci

September 22nd, 2006 by bobeto05

Setelah mengeluarkan statement bahwa Nabi Muhammad menyebarkan ajaran Islam (dan menyeru ummatnya untuk melakukan yang sama) dengan pedang,Sang Bapa Suci Benedictus akhirnya memohon maaf kepada ummat Islam. Sang Bapa Suci mengatakan bahwa dia tidak menyangka ucapannya ini akan menyakiti perasaan ummat Islam. Untuk itu, katanya lagi, marilah kita anggap ini sebagai ajakan untuk berdialog secara ‘jujur’.

Sebagai ummat Islam, sudah seharusnya kita bisa memaafkan ‘ketidaktahuan’ Bapa Suci ini. Toh dengan pernyataan beliau, kita bisa paham bahwa ternyata Sang Bapa Suci tidak memahami dengan baik isi pembicaraannya tentang Islam. Yah, bagaimanapun Sang Bapa Suci juga hanya manusia biasa. Mari kita maafkan beliau.
Tapi menarik untuk menerima ‘ajakan’ beliau untuk berdialog secara jujur. Saya teringat, ajakan ini juga terlontar dari mulut beliau saat dilantik sebagai Paus yang baru. Saat itu, menanggapi ajakan beliau untuk mengembangkan dialog antar agama, MMI (Majelis Mujahidin Indonesia) kalo tidak salah, pernah melayangkan surat kepada Sri Paus untuk menindak lanjuti ajakan tersebut dengan dialog terbuka antara MMI dengan Lembaga Kepausan di Vatikan. Sejauh yang saya tahu, surat tersebut tidak mendapat tanggapan sama sekali. Apakah ‘ajakan’ kali ini kembali hanya retorika, atau kah untuk memperbaiki ‘kealpaan’ yang telah lalu, saya juga tidak tahu.

Tapi saya tertarik dengan ajakan yang sudah dilontarkan oleh Bapa Suci Benedictus. Karena itulah saya ingin menulis di sini, dengan sebelumnya memohon maaf kepada saudara2 saya yang beragama Nasrani apabila ada tulisan saya yang dianggap menyakiti hati saudara2. Apa yang saya tulis ini tidak lain hanyalah untuk berdialog secara ‘jujur’ dan terbuka dengan maksud untuk mencari kebenaran semata, bukan untuk menyakiti saudara2. Dalam tulisan ini saya banyak mengambil bahan dari buku ‘Langit Merah di atas Salib’ karya Hindun Al Mubarok dan buku ‘Abrahamic Faith’ karya Dr. Jerald F. Dirks. Saudara2 tentu bisa memiliki kedua buku itu di toko buku terdekat (Iklan terselubung he..he..)

Mengenai penyebaran Islam dengan pedang, Mungkin Bapa Suci menyimpulkan demikian dengan membaca sejarah Nabi Muhammad yang penuh dengan cerita peperangan. Tapi tentunya kita harus melihat sebab musabab peperangan tersebut. Seperti yang sering saya katakan, dalam Islam sebagai Rahmatan Lil ‘Alamin, kami ummatnya memang diajarkan untuk berkasih sayang dengan sesama manusia. Namun, untuk keseimbangan, di dalam Islam juga diajarkan prinsip Jihad (sebenarnya bukan hanya dalam artian perang) untuk berusaha sekuat tenaga demi kemaslahatan ummat. Dengan prinsip2 inilah seperti yang sering saya bilang, di dalam Islam kita diajarkan untuk tidak mencari2 musuh tetapi apabila ada musuh jangan lari.
Kalau mau ‘jujur’, sebenarnya di dalam ajaran Nasrani juga diajarkan tentang hal2 seperti ini. Di dalam Matius 10:34-36 Yesus pun mengatakan "Jangan kamu menyangka bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas Bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang. Sebab Aku datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya, dan musuh orang adalah orang-orang seisi rumahnya..". Saya sangat menyesalkan, seringkali orang mendiskreditkan Islam dengan hal2 yang ternyata sebenarnya juga diajarkan dalam agama mereka masing-masing, tapi mereka ‘tidak sadar’ akan hal itu.
Hal lain yang sering menjadi kritikan orang terhadap Islam adalah hukum Kisas atau bahasa kerennya ‘Vendetta’. Dengan hukum Kisas ini, terjadi pembalasan atas kejahatan tertentu seperti nyawa bayar nyawa ataupun hukum potong tangan. Tapi ternyata di dalam Bible pun ada ajaran serupa. Di dalam prinsip ajaran Kristen terdapat prinsip Lex Tallionis seperti diungkapkan dalam Keluaran 21: 23-25, dimana diajarkan tentang nyawa ganti nyawa, mata ganti mata, gigi ganti gigi, dan seterusnya. Jadi sebenarnya hukum Kisas/Vendetta ini sama dengan prinsip Lex Tallionis. Hanya saja, memang lebih mulia apabila kita mau memaafkan orang lain dan melepaskan hak balas tersebut seperti di ajarkan dalam Bible dan Quran. Lihat Matius 5:38 dimana dikatakan Yesus menganjurkan para pengikutnya untuk melepas hak balas tersebut, bahkan bila pipi kanan ditampar berikan pipi kirimu, bila orang menginginkan bajumu berikan juga jubahmu, dan bila orang memaksamu berjalan 1 mil, jalanlah bersamanya 2 mil. Bandingkan dengan QS 5:45 dan QS 42:40-43 dimana dikatakan bahwa balasan suatu kejahatan adalah dengan kejahatan yang serupa, akan tetapi bagi orang yang mau melepaskan hak balasnya dengan memberi maaf, maka hal itu adalah sebagai penghapus dosa baginya dan menambah pahala atasnya. Bukan kah kedua ajaran ini sebenarnya mirip? Hanya saja, yang sering diangkat dalam mendiskreditkan ummat Islam hanya hukum kisasnya tanpa melihat adanya anjuran untuk memaafkan. Tapi sekali lagi saya tekankan, anjuran untuk memaafkan berbeda dengan ‘paksaan’ untuk memaafkan. Jadi apabila orang yang di zhalimi tetap menuntut balas, maka itu adalah haknya. Karena itu saya tidak setuju dengan pemaksaan untuk menghilangkan hukuman mati (bagi keadilan pihak korban).

Untuk dialog ‘jujur’ lainnya, saya ingin melemparkan pertanyaan-pertanyaan (yang saya sangat mengharapkan jawabannya) yaitu:
1. Hari Lahir Yesus ditetapkan pada tanggal 25 Desember pada Konsili Nicea tahun 325 M. Pertanyaan, kenapa yang memutuskan hal itu adalah Kaisar Romawi yang beragama Pagan, dan bandingkan dengan hari kelahiran tuhan-tuhan Pagan berikut yang juga jatuh pada 25 Desember : Bacchus, Adonis, Buddha, Mithras, Hercules, dan Osiris.
2. Tentang ajaran Trinitas (yang juga dikukuhkan pada Konsili Nicea) diyakini tiga dalam satu dan satu dalam tiga. Pertanyaan, Bandingkan dengan ajaran Trinitas berikut: Oromasdes-Mithra-Arimanius/Ahriman (Persia), Osiris-Horus-Typhon (Mesir), Ycona-Bacab-Echiah (Mexico), Orphic Phanes-Ericapeus-Metis (Yunani), Odin-Thor-Frey (Skandinavia), Syiwa-Wishnu-Brahma (India).
3. Di Dalam Matius 5: 17-19 Yesus menegaskan bahwa kedatangannya bukan lah untuk meniadakan Hukum Taurat. Siapa yang meniadakan salah satu hukum Taurat, dia akan menempati tempat terendah di Kerajaan Surga. Pertanyaan, Siapa yang menghapus kewajiban Khitan (sunat) dan mencabut larangan memakan Babi di dalam ajaran Nasrani???

Mungkin sekian saja dulu pertanyaan-pertanyaan yang bisa saya ajukan mengingat keterbatasan waktu. Mudah2an Allah membukakan Hidayah bagi mereka yang mau berpikir, amien…

PLURALISM AND ITS CHALLENGE IN A GLOBALIZED WORLD

August 15th, 2006 by bobeto05

PLURALISM AND ITS CHALLENGE IN A GLOBALIZED WORLD

Judul di atas merupakan tema sebuah diskusi panel yang diselenggarakan oleh sebuah lembaga pengusung paham Pluralisme di Indonesia beberapa saat yang lalu. Sebagai Panelis, dihadirkan dua orang Professor pengusung paham ini yaitu Professor Paul Knitter dari USA dan Professor Farid Essack dari Afrika Selatan.

Prof Paul Knitter yang mendapatkan kesempatan pertama mengangkat tema perlunya dialog antar agama dalam mensosialisasikan ide-ide pluralisme. Dengan dialog - menurutnya - dapat diredam sifat fundamentalisme dalam beragama (sekali lagi fundamentalisme menjadi momok). Satu catatan dalam paparannya, dia mengungkapkan, "Kedamaian dunia dapat tercipta bila terwujud kedamaian antar agama. Kedamaian antar agama dapat terwujud bila ada dialog. Dan dialog hanya dapat terlaksana bila MASING-MASING AGAMA MELEPASKAN KEYAKINAN BAHWA AGAMANYA LAH YANG PALING BENAR (Sengaja saya tekankan dengan huruf besar). Benar-benar berbahaya ungkapan Prof kita ini. Untung saja pada sesi tanya jawab seorang rekan mempertanyakan hal ini. Rekan tersebut menanyakan kepada Prof Knitter, apakah dia masih Kristen dan di jawab dengan yakin oleh Prof Knitter bahwa dia masih 100% Kristen. Lalu penanya mempertanyakan apakah Prof tidak meyakini bahwa agamanya lah yang paling benar namun beliau menganalogikan keyakinannya dalam beragama dengan caranya memilih istri. Menurut Prof Knitter, bagi dia, istrinya lah yang paling cocok untuknya. Walaupun dia sadar bahwa masih banyak wanita yang lebih cantik, lebih baik, dan lebih pintar dari pada istrinya. Walaupun kenyataan itu disadarinya, dia tetap merasa istrinyalah yang terbaik baginya. Saya tidak tau, apakah analogi ini tepat atau tidak namun saya sangat tidak setuju bila cara memilih agama dibandingkan dengan cara memilih istri. Pertama, Agama adalah tuntunan hidup seseorang. Kalo saya sih, untuk masalah pedoman saya tentu akan memilih yang terbaik. Jadi kalo apa yang saya pedomani ternyata bukan yang terbaik, untuk apa saya masih memegangnya. Sebagai contoh saya analogikan dalam memegang kompas sebagai pedoman dalam perjalanan jauh. Bila sebuah kompas tidak akurat sedikit aja, maka semakin jauh kita berjalan akan semakin jauh dari tujuan. Tentu saja saya harus memilih kompas yang paling akurat. Kedua, Dalam memilih istri harus mempertemukan dua kemauan. Bila saya mau memperistri seseorang tapi dia tidak mau, tentu saja tidak akan terjadi pernikahan. Jadi analogi Prof Knitter bahwa istri kita yang terbaik bagi kita walaupun masih ada yang lebih cantik, lebih pintar dan lebih baik agaknya kurang tepat. Bisa jadi sebenarnya kita menginginkan seseorang yang lebih baik dari istri kita sekarang, tapi karena faktor ketidakmampuan mendapatkannya lah maka kita memperistri wanita yang sekarang menjadi istri kita (hua..ha..ha.. menyedihkan). Kondisi ini berbeda dengan memilih agama. Agama tidak ada faktor mau atau tidak mau dari pihak kedua (agama itu sendiri). Jadi, kalo keputusan perjodohan dengan agama itu hanya ada di pihak pertama (Manusianya), ngapain juga kita ga milih yang terbaik sekalian??? Ah… ada-ada aja Prof Knitter dalam nyari alasan untuk mempromosikan paham pluralismenya. Ketiga, seperti biasa saya menolak pencitraan buruk terhadap fundamentalisme dalam beragama. Setiap pemeluk agama harus memegang teguh fundamental agamanya. Citra buruk fundamentalisme adalah hasil pembentukan opini kaum sekuler/liberal yang ingin menjauhkan umat beragama dari agamanya. Seorang Muslim yang memegang teguh fundamen tauhid nya tentu akan mematuhi perintah Allah dan rasulnya untuk berbuat baik bagi seluruh manusia (Tanpa memandang agamanya) selama manusia itu tidak mengganggu kaum Muslim. Kita tentu sudah umum dengan ayat "Tidak ada paksaan dalam agama" atau "Bagimu agamamu dan bagiku agamaku" bahkan ayat "Janganlah kebencianmu kepada suatu kaum membuat kau berlaku tak adil kepada mereka". Dan saya yakin, dengan Fundamental Kasih Kristus, Kaum Kristen juga tidak akan mengganggu sesama umat manusia walaupun agamanya berbeda. Kesimpulannya, saya yakin tidak ada yang salah dengan fundamentalisme.

Sebagai pembicara kedua, Prof Farid Essack mengangkat isu eksklusifisme dalam Islam. Menurut beliau, Islam saat ini sangat eksklusif milik bangsa Arab. Beliau mengatakan bahwa banyak aturan Syariat yang merupakan bagian dari budaya Arab yang kemudian dimasukkan menjadi aturan Syariat. Namun dengan kontrasnya, beliau yang sangat menentang Arabisasi (Mengutip istilah beliau) ini ternyata mendukung infiltrasi budaya-budaya lain ke dalam Islam. Beliau mengatakan bahwa Islam sangat Eksklusif saat ini. Infiltrasi budaya Mesir, budaya Jawa dan budaya lainnya ke dalam Islam seperti tahlilan, wiridan, Ziarah kubur sering dianggap bid’ah. Beliau sangat menentang gerakan2 pemurnian yang menurut beliau ‘kolot’. Wah standar ganda dong Prof. Syariat Islam anda katakan Arabisasi, sedangkan infiltrasi budaya dan sinkretisme anda katakan inovasi.

Tapi bagaimanapun saya sangat berterima kasih kepada International Center for Islam and Pluralism yang - walaupun selalu bersebrangan dengan saya - mau mengundang saya menghadiri diskusi panel ini. Saya tetap mendapat banyak pelajaran berharga dengan menghadiri acara ini. Sebab, dengan mengetahui pemikiran pengusung paham pluralisme, saya semakin yakin akan pentingnya fundamentalisme (he..he..). Mudah-mudahan hubungan baik kita - walaupun berbeda paham - tetap terjaga, amien.

Mereka Merampas Otoritas Tuhan

May 31st, 2006 by bobeto05

Pada saat MUI mengeluarkan Fatwa sesat terhadap Ahmadiyah dan golongan SEPILIS, para pendukungnya mengatakan "Apa hak MUI mengambil Otoritas Tuhan". Jika MUI ga punya otoritas untuk mengeluarkan Fatwa yang menjadi pegangan bagi Ummat Islam, lantas siapa lagi? Bukan kah Ulama merupakan pewaris para Nabi?

Oke, lupakan itu.

Sekarang aku ingin mempertanyakan kembali kepada mereka, Mengapa mereka merampas ‘Otoritas’ Tuhan? Berikut ini pertanyaan ku :

1. Mereka yang begitu mengagung-agungkan Demokrasi pasti tau semboyan "Suara Rakyat - Suara Tuhan". Mereka merampas Hak Tuhan dengan mengkondisikan bahwa Tuhan lah yang harus beradaptasi terhadap suara Rakyat. Maka, bila Rakyatnya anarkis, Tuhannya juga anarkis. Tidak heran bila demo buruh tempo hari berlangsung rusuh, sebab mereka merasa Suara Tuhan pasti sama dengan suara mereka. Bandingkan dengan aksi - aksi PKS yang selalu tertib (Aku promosi neh…)

2. HAM adalah Hak Azasi Manusia yang ‘diberikan’ oleh Tuhan. Tapi dalam sebuah buku panduan para ‘Barisan Sakit Hati’, dikatakan bahwa demonstran yang terbunuh dalam suatu aksi adalah pelanggaran HAM, tapi bila Tentara/Polisi yang terbunuh itu hanyalah tindak pidana biasa. Apa Hak kalian mendefinisikan HAM yang merupakan pemberian Tuhan kepada semua manusia? Apakah aparat negara tersebut bukan manusia? Tidak heran kalian melempem saat melihat Polisi dibantai dengan luar biasa sadisnya. Tentu beda jika yang terbunuh adalah demonstran, suara kalian akan lantang terdengar. Sadarkah kalian telah merampas Hak Tuhan?

3. Saat ini sekelompok orang atas nama HAM menolak Hukuman Mati dengan berbagai alasan. Salah satu alasannya adalah Hak hidup. Siapa yang memberikan Hak hidup itu? Kalian kah? Atau Tuhan? Seorang yang melakukan pembunuhan sadis layak dibunuh karena dengan membunuh, dia telah menghilangkan hak hidupnya sendiri yang merupakan pemberian Tuhan. Tuhan (dalam semua Kitab Suci) tidak pernah menghapuskan hukuman mati. Lebih mulia kah kalian dari pada Tuhan???
Hukuman mati tidak memberikan efek jera menurut kalian. Apakah Penjara memberikan efek jera? Menurut logika kalian, efek jera mana yang lebih besar, hukuman penjara atau hukuman Mati? Kalo penjara memberi efek jera, kenapa penjara begitu penuh sesak sehingga over capacity?
Sekali lagi kalian merampas Hak/otoritas Tuhan!!!

n.b:
Saya mendukung hukuman mati terhadap Imam Samudera Cs. Dan saya juga mendukung hukuman mati terhadap Tibo Cs. Tapi mereka berbeda. Saya menaruh respect terhadap Samudera Cs, sebab mereka menyongsong hukuman mati dengan keyakinan penuh. Mereka sadar telah membunuh banyak orang, jadi mati adalah konsekuensi yang mereka tunggu. Mereka tidak mau minta ampun (grasi) terhadap manusia (Presiden) sebab mereka yakin apa yang mereka lakukan benar (Walaupun saya tidak setuju dengan pendapat ini). Selain itu, mereka tidak tunjuk sana - sini buat meringankan ‘dosa’ mereka.

Berbeda dengan Tibo Cs yang sangat menjijikkan bagi saya. Bila mereka yakin apa yang mereka lakukan adalah benar, Terimalah konsekuensinya dengan Keyakinan dan Iman yang teguh. Saya sangat antipati dengan rengekan mereka minta grasi (pengen sampe dua kali), Ketakutan menunggu hukuman mati, malahan main tunjuk sana - sini (Bahkan menunjuk Lembaga Agama segala). Padahal kalo Tibo Cs bisa menunjukkan keyakinan yang kuat atas kebenaran yang mereka anut, saya akan memberikan rasa hormat saya sebagaimana terhadap Samudera Cs.

Poligami

April 23rd, 2006 by bobeto05

"Hanya di Islam Poligami dibolehkan, Agama lain melarang Poligami!"
Hampir jungkir balik saya mendengar komentar seorang teman (padahal dia Muslimah) seperti ini.
Sepertinya program pengrusakan keyakinan terhadap Islam mulai menampakkan hasilnya. Memang kelompok yang memusuhi Islam telah memprogramkan hal ini. Untuk menghancurkan Islam tidak bisa dengan memerangi Islam, tapi rusak moral generasi mudanya dan hilangkan keyakinan mereka terhadap ajaran agama mereka.

Saya hanya bisa menghela nafas dengan berat. Saya minta kepada kawan tersebut untuk membawakan satu ayat saja dalam Kitab suci manapun yang melarang Poligami. Mungkin dia malah belum pernah memegang Al Kitab (Bibel), Wedha atau Tripitaka. Jadi, yang dikatakannya itu adalah apa yang didengarnya dari musuh Islam. Semoga dia mau mempelajari lebih banyak.

Dari 2 kitab suci yang pernah saya baca, baru Al Quran lah yang secara tegas melakukan pembatasan jumlah istri sebanyak 4, tetapi bila TIDAK MAMPU berlaku ADIL kawini 1 saja. Sedangkan di kitab lainnya, tidak ada batasan jelas, walaupun ada larangan bercerai. Jadi sangat dimungkinkan terjadi Poligami bukan??? Lihatlah dari kisah2 setiap Agama dimana para orang pilihan pun ber-poligami.

Beristri lebih dari 1 (dengan batas 4) memang dibolehkan, tapi bagi saya itu bukan anjuran apalagi  perintah. Bagi mereka yang merasa mampu berlaku adil, silahkan. Saya angkat topi dengan keyakinan mereka. Tapi jangan kawin sembunyi2 dengan dalih poligami, karena itu menimbulkan fitnah. Padahal Rasulullah memerintahkan untuk mengabarkan pernikahan.

Memang banyak kalangan (terutama dari kaum feminis) yang menentang keras poligami. Mereka beralasan, poligami menyakiti hati wanita. Oke, saya tau mungkin sangat sedikit wanita yang ikhlas dimadu (bukan berarti tidak ada seperti kata mereka). Tapi saya heran, mereka menentang keras poligami bahkan memboikot usaha pelaku poligami, tapi kok tidak ada penentangan keras terhadap pelaku zina dan pemboikotan dari pergaulan dengan para pezina. Padahal para pezina itu menyakiti hati seorang wanita yang seharusnya paling kita muliakan di dunia ini yaitu IBU. Saya mau bertanya, sakit mana hati seorang Ibu yang anaknya berzina dan di-zinahi dibandingkan dengan hati seorang wanita yang dimadu (secara terus-terang/poligami). Oke kalau mereka - atas nama HAM dan emansipasi wanita - menentang/memboikot para POLIGAMER. Tapi saya minta mereka fair dengan menentang/memboikot dari pergaulan para ZINAHER (he..he.. istilah baru nih).

Laki-laki tidak akan bisa berlaku adil, bahkan di dalam Al Quran ditegaskan "Kau tak akan bisa berlaku adil walaupun kau SANGAT INGIN BERLAKU ADIL". Benar, keadilan di dunia ini bersifat relatif dan subyektif. Bagaimanapun usaha seorang suami untuk adil, istri yang dimadu pasti akan ada rasa cemburu. Bahkan Rasul yang paling mulia pun tidak bisa terhindar dari hal ini. Tapi ingat, di dalam Islam yang diutamakan adalah usahanya. Bila seseorang berusaha sungguh-sungguh, dia akan dianggap sudah berlaku adil (Ingat, usaha sungguh-sungguh). Bukankah seorang yang berusaha sungguh-sungguh dalam ijtihad, bila dia benar mendapat 2 pahala sedangkan bila salah mendapat 1 pahala? Selain itu, bila penegasan Allah bahwa manusia tidak akan bisa berlaku adil menjadi alasan untuk menasakh (menghapus/membatalkan) pembolehan poligami, ini juga salah. Sebab dalam Al Quran juga dikatakan "Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum membuatmu tidak berlaku adil terhadap mereka". Apakah berarti perintah ini batal? Apakah kita jadi boleh menganiaya golongan yang kita benci tanpa alasan? Tolong dipikirkan.

Serangan lain yang ditujukan bagi ’sedikit’ wanita yang rela dimadu adalah dengan alasan Ekonomi dan Dogma Agama. Alasan Ekonomi mungkin benar. Tapi apa salahnya? Bukankah yang bermonogami juga banyak karena alasan ekonomi (bahkan sangat keterlaluan/matre)? Seorang wanita rela dimadu karena dia menggantungkan hidupnya dari nafkah suami adalah lebih terhormat dari pada wanita yang mau mandiri secara ekonomi dengan menjual tubuh (Baik melacur secara harfiah, maupun melacur atas nama seni).

Bagaimana dengan Dogma Agama (bahwa akan disediakan sorga bagi wanita yang rela dimadu)? Mungkin ini perlu penjelasan mendalam. Di dalam Al Quran dikatakan "Tidak lah Kami (Allah) timpakan ujian/cobaan bagi manusia dengan apa yang tidak mampu ditanggungnya". Jadi, bila seorang wanita berhasil lulus dalam ujian ini, derajatnya di mata Allah meningkat. Wajar bukan dengan janji sorga dari Allah? Bagi mereka yang tidak mampu menanggung ujian poligami ini, berarti kemampuannya hanya sampai disitu. Untuk mencari sorga masih juga tersedia jalan-jalan yang lain dengan ujian yang berbeda. Jadi jangan risau :D (Tenanglah istriku, masih banyak jalan).

Kalau kita mau fair, mereka yang menolak poligami juga disebabkan Dogma pihak yang mau menjelek-jelekkan Islam. Dogma itu seperti : "Poligami menyakiti hati wanita", "Laki-laki tak akan bisa adil", "Hanya Islam yang membolehkan Poligami (sebagai bentuk penindasan terhadap wanita kata mereka)". dan lain-lain. Teman tadi juga pernah mengatakan bahwa banyak contoh rumah tangga yang hancur karena poligami. Pertanyannya, tidak banyakkah rumah tangga monogami yang hancur? Apakah berarti kita tinggalkan saja perkawinan (Monogami maupun poligami), dan mulai kumpul kebo? Justru Kumpul Kebo adalah bentuk pelecehan terhadap wanita menurut saya. Dengan model ini, si wanita bebas di’pake’ tanpa tanggung jawab. Ini benar-benar pelecehan serendah-rendahnya terhadap wanita, na’udzubillah mindzalik. Bagi saya, perkataan seorang Poligamer lebih bisa saya percaya (Sebab dia berani menanggung resiko dengan berpoligami) dari pada seorang Zinaher, Kumpul-keboer, selingkuher dan er-er lainnya yang tidak siap bertanggung jawab (Tidak siap menerima resiko). Bagi saya, prinsip High Risk High Gain adalah benar.

Kesimpulannya, seperti dikatakan di dalam Al Quran, "Tidaklah patut bagi laki-laki beriman dan perempuan beriman, bila Allah dan Rasulnya menetapkan sesuatu bai urusan mereka akan ada pilihan lain bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang mendurhakai Allah, mereka di dalam kesesatan yang nyata". Dan di lain ayat, "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kau HARAMKAN sesuatu yang baik yang di HALALKAN Allah bagimu dan janganlah BERLEBIH-LEBIHAN. Sesungguhnya Allah membenci orang yang berlebih-lebihan".

Inferiorisme Scholar Islam

February 22nd, 2006 by bobeto05

Buya Hamka di dalam pengantar atas buku Haikal ‘Sirah Nabawiyah’ menangkap gejala inferiorisme pada pemikir muda Islam saat itu (yang sekarang mungkin sudah meninggal dan stroke/buta).
Beliau melihat gejala dimana scholar2 muda itu begitu meng-agung2kan pemikiran dan budaya barat yang dianggap modern, dan menganggap Islam sebagai budaya kadaluwarsa.

Saya juga memperhatikan, kenapa di Universitas2 unggulan (yang notabene katanya pendidikan sekuler) semangat kebangkitan Islam begitu terasa. Tapi justru di Universitas yang mengatasnamakan Islam, kental terasa perkembangan sekulerisme dan liberalisme. Wah ada apa?

Mungkin, ini pendapat aja lho, orang2 di universitas unggulan itu memiliki kepercayaan diri yang lebih tinggi sehingga mereka tidak merasa inferior menghadapi dunia barat. Tapi orang2 kelas dua (yang dengan keterpaksaan masuk ke Universitas Islam dsb) merasa inferior terhadap dunia barat. Sehingga, saat mendapatkan kesempatan untuk belajar ke barat (yang memang telah diprogram begitu mudah dan melimpah untuk tujuan barat) mereka merasa sangat bangga. Karena itulah, pemikiran mereka sangat ke barat-baratan. Dan mereka merasa dengan mengikuti pola pikir barat mereka jadi ‘pintar’ :) kasian…

Sebuah majalah terbitan kaum sekuler dan liberalis Islam (saya sebut aja namanya dengan tidak mengurangi rasa hormat ‘Syir’ah’) pernah mengatakan ‘biar waktu yang menjawab’. Pernyataan itu dikemukakan sehubungan dengan kritiknya atas majalah Islam lain seperti Sabili yang dianggap tidak memberikan pemberitaan yang baik. Menurut Syir’ah, Sabili tidak akan bertahan lama dengan berita yang tidak menyejukkan itu. Dan Syir’ah merasa (pe-de) beritanya yang menyejukkan akan lebih diterima masyarakat. Tapi, sekali lagi kasian… ternyata umur Syir’ah hanya seumur jagung. Karena funding tidak memperpanjang dukungan dana, Syir’ah hilang dari peredaran. Hal ini saya ketahui dari sumber terpercaya (sebut saja orang dalam). Memang sih sepengetahuan saya, Syir’ah tidak laku dijual, karena itu lebih sering dibagi2kan di acara2 kelompok liberal - sekular ;). Yah ternyata memang waktu yang menjawab, umur Syir’ah hanya seumur jagung. Sedangkan majalah yang dianggap entengnya (mungkin karena Sabili tidak mendapat dana barat yang dianggap sangat kuat dan tanpa batas) malah bertahan dan diterima masyarakat Islam.

Saya menghimbau teman2 yang sekuler dan liberal, kembali lah kepada Islam. Islam saat ini lemah bukan karena Syariatnya yang lemah. Dan bukan juga karena barat lebih bagus. Tapi karena kita (orang Islam) yang tidak mendalaminya. Sekalian menaggapi teman yang mengatakan bahwa Al Quran belum lengkap. Kalo Al Quran sudah lengkap, kasian dong umat terkini yang menjawab jaman dengan jawaban bapaknya, begitu kira2 kata teman. Apakah benar Quran itu jawaban bapak2 kita terdahulu? Bukankah ada jawaban di Quran yang diperuntukkan bagi kita dan belum dimengerti bapak kita dulu? tapi mereka Sami’na wa ata’na. Mungkin kitanya aja yang belum mendalami Quran itu untuk mencari jawaban terkini dan yang akan datang.
Juga mengenai keyakinan teman yang mengatakan ’saya dengar ada umat yang lebih baik dari umat terdahulu’. Wah kalo dalil ’saya dengar’ menurut saya belum kuat. Saya lebih percaya pada dalil naqli ‘Kuntum Khaira ummat ukhrijat linnas…’ Jadi umat yang terbaik adalah Jaman Rasulullah, dan Khulafaur Rasyidin (Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali). Mengenai Al Quran Fatimiyah dan umat yang lebih baik itu, sampe saat ini tertutup bagi hati dan akalku ;) Itu hanya bentuk Kultus individu dan Feodalisme (kepemimpinan turun-temurun) yang meng-infiltrasi Islam dari budaya Parsi.
Wallahu Alam Bishshawab…